Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra

Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra
Logo Perpustakaan

Perpustakaan

Surganya para pecinta buku, tempat menambah wawasan, membuka jendela dunia, tempat berbagi pengalaman, dan tempat having fun.

Dengan blog ini, kami mencoba berbagi pengetahuan dan pengalaman-pengalaman menarik yang kami alami di perpustakaan.

So, read it and find it out!! :D
Tampilkan postingan dengan label FIqh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIqh. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 April 2014

Membalas Ucapan Dalam Islam

Jika ada orang yang mengucapkan kepadamu:

- "Ghofarollohu laka" => maka jawablah "wa laka" (kamu juga)  [HR. Ahmad dan Nasai, buku 'Amalul yaum wa lailah]

-"Baarokallohu fiika" => jawab lah "fiika baarokallohu" (HR. Ibnu Suni, buku Wabilus-Shoyyib, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)

-"Jazakumullohu"  => jawablah "wa iyyaka"

- Jika ada orang kafir bersin, lalu dia mengucap "Alhamdulillah" => maka jawablah "yahdikumullohu wa yushlih baalakum" (semoga Alloh memberi petunjuk dan memperbaiki dirimu) Tanpa membaca "yarhamukallohu" (semoga Alloh menyayangimu) karena itu hanya untuk orang muslim (Shohih Tirmidzi)


- Doa kepada orang yang meminjamkan harta atau barang kepada kita
ucapkan "Barokallohu laka fii ahlika wa maalika" (Semoga Alloh memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu) [HR. Bukhari, buku Fathul Bari]

- Doa kepada orang yang meinjamkan harta atau barang kepada kita, maka ketika membayar hutang tersebut ucapkanlah "Barokallohu laka fii ahlika wa maalika, innamaa jazaaus salafil hamdu wal adaai" (Semoga Alloh memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Sesungguhnya balasan meminjami adalah pujiandan pembayaran -hutang-) [HR. An-Nasai, buku 'Amalul yaum wal lailah]

Semoga bermanfaat

Kamis, 03 November 2011

Penyamakan Kulit Binatang

 Dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :"Jika Kulit Binatang telah disamak maka ia menjadi suci" (riwayat oleh muslim)

Menurut riwayat Imam Empat :"Kulit binatang apapun yang telah disamak (ia menjadi suci)."

Dari Salamah Ibnu Al-Muhabbiq r.a. bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda :" Mensucikan kulit binatang adalah dengan menyamaknya." (hadits shahih menurut Ibnu Hibban)

Maimunah r.a. berkata bahwa Rasulullah s.a.w. melewati seekor kambing yang diseret orang-orang. Beliau bersabda :"Alangkah baiknya jika engkau mengambil kulitnya." Mereka berkata: "kambing ini sudah menjadi bangkai," Beliau bersabda: "Kulitnya dapat disucikan dengan air dan daun salam." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa'i)


                    Samak ialah menyucikan kulit hewan selain anjing dan babi dengan syarat-syarat tertentu.
Ia menggunakan bahan-bahan yang bersifat tajam (peluntur) seperti tawas, bahan kimia dan sebagainya.
Bahan-bahan tersebut dapat menanggalkan dan menghilangkan semua kekotoran dan lendir yang mengandungi kuman­-kuman penyakit yang melekat pada kulit binatang tersebut.
Akan tetapi dalam masalah menggunakannya untuk kepentingan ibadat solat, seperti dibuat pakaian untuk menutup aurat dan seumpamanya, ataupun untuk kegunaan menyimpan barang yang basuh seperti air dan seumpamanya, tidak harus menggunakan kulit yang telah siap disamak bagi tujuan-tujuan tersebut (untuk dibawa sembahyang dan menyimpan benda yang basah) melainkan setelah dicuci dengan air, walaupun ia disamak dengan bahan yang suci, apatah lagi jika kulit itu disamak dengan menggunakan bahan penyamak yang najis, kerana kulit yang telah disamak itu diumpamakan seperti pakaian yang terkena najis.
Adapun jika dibersihkan najis itu dengan air sebelum kulit itu disamak adalah tidak memadai. Sebagai contoh, jika kulit yang belum disamak itu terkena najis mughallazhah lalu disucikan dengan air sebanyak tujuh kali di mana salah satunya bercampur tanah, maka tidak diterima thaharah (penyucian) itu. (Nihayah al-Muhtaj, Kitab ath-Thaharah, Bab an-Najasah Wa Izalatuha : 1/251 , Al-Minhaj fi Syarh Shahih Muslim, Kitab al-Haid, Bab Thaharah Julud al-Maitah, Mughni al-Muntaj, Kitab ath-Thaharah, Bab an-Najasah).
Kesimpulannyaa, sungguhpun kulit yang sudah disamak dianggap suci dari segi di mana sebelumnya ia dianggap sebagai bangkai, akan tetapi ia belum boleh dimanfaatkan (kecuali dalam masalah jual beli) melainkan setelah dibersihkan terlebih dahulu dengan air setelah kulit berkenaan siap disamak. Adapun pembersihan kulit dengan menggunakan air sebelum atau semasa kulit disamak adalah tidak memadai.

setiap umat Islam perlu berhati-hati dalam meilih keperluan masing-masing. Pastikan pilihan kita bukan daripada kulit yang najis itu.
  • 1. Tujuan menyamak ialah untuk menyucikan kulit yang najis (bangkai).
  • 2. Hukum menyamak kulit adalah harus.
  • 3. Menyamak tidak tertentu kepada orang Islam sahaja bahkan orang kafir pun boleh menyamak asalkan ia mengikut cara yang dilakukan oleh orang Islam.
  • 4. Hubungan menyamak kulit dengan kehidupan manusia:
Untuk menambahkan ekonomi bagi mereka yang melakukannya. Untuk mengelakkan daripada pembaziran.
  • 5. Hanya kulit sahaja yang boleh disamak, tidak boleh pada kuku, gigi dan tulang.
  • 6. Takrif dan pengenalan bangkai :
Binatang yang halal dimakan yang mati tidak disembelih mengikut cara-cara Islam. Binatang yang haram dimakan yang mati sama ada disembelih atau tidak, tetap ia menjadi bangkai.
  • 7. Binatang-binatang yang mati termasuk dalam jumlah bangkai:-
Binatang yang disembelih dengan menggunakan tulang. Binatang yang disembelih oleh orang Majusi (orang yang menyembah api) Sembelihan orang-orang yang berihram (Ihram haji atau umrah)
  • 8. Binatang yang tidak suci kulitnya walaupun disamak:
  • Babi
  • Anjing
  • Anak yang dilahirkan daripada perkahwinan di antara anjing dan babi
  • Anak yang dilahirkan daripada perkahwinan binatang yang halal dengan anjing atau babi.
  • 9. Alat-alat yang digunakan untuk menyamak kulit iaitu sesuatu yang tajam rasanya atau kelat seperti tawas, cuka, asam, limau dan sebagainya.
  • 10. Cara menyamak kulit binatang :
Terlebih dahulu hendaklah disiat kulit binatang daripada anggota badan binatang (setelah disembelih). Dicukur semua bulu-bulu dan dibersihkan segala urat-urat dan lendir-lendir daging dan lemak yang melekat pada kulit. Kemudian direndam kulit itu dengan air yang bercampur dengan benda-benda yang menjadi alat penyamak seperti asid dan bahan kimia sehingga tertanggal segala lemak-lemak daging dan lendir yang melekat di kulit tadi. Kemudian diangkat dan dibasuh dengan air yang bersih dan dijemur.
  • 11. Kulit yang disamak itu haram dimakan kerana boleh mendatangkan mudarat pada anggota badan manusia.

  • 12. Maksud perkataan suci zahir dan batin pada menyamak kulit binatang:
Suci pada zahir itu ialah ialah sebelah luar tempat tumbuh bulu yang telah dicukur dan kulit itu melekat pada daging. Suci pada batin ialah di sebelah dalam kulit yang bermakna kulit itu dibelah maka bekas belahan itu suci.
  • 13. Bulu-bulu binatang yang telah disamak dan terlekat pada kulit kiranya sedikit adalah dimaafkan.
  • 14. Hubungan menyamak kulit binatang dengan ilmu-ilmu yang lain:
Pada Ilmu Muamalat kulit yang telah disamak boleh dijualbeli. Pada Ilmu Jinayat kulit yang telah disamak boleh dipotong tangan apabila dicuri. Pada Ilmu Faraid kulit yang telah disamak boleh dipusakakan
  • 15. Kesimpulan ialah menyamak kulit binatang adalah bertujuan menyucikan kulit.
( Kitab Matlaal Badrain - Syeikh Daud Fattani )


Jumat, 14 Oktober 2011

Macam-macam air menurut hadist

Para pengunjung sekalian, air sangat diperlukan bagi kelangsungan kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Tanpa air, makhluk hidup tidak dapat melangsungkan kehidupannya. Nah, tidak hanya dalam hal kelangsungan hidup saja air itu diperlukan, tetapi dalam hal ibadah air juga diperlukan sebagai salah satu mediator penyuci tubuh dari hadas kecil/besar dan najis. Apabila hendak sembahyang tetapi tubuh belum disucikan, maka sembahyang kita belum tentu sah.
Pada pembahasan ini kita akan memberitahukan hadis-hadis tentang macam-macam air.
"Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang (air) laut. 'Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal' " (dikeluarkan oleh imam Empat dan Ibnu Syaibah. lafadz hadis menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi'i dan Ahmad juga meriwayatkannya)

"Dari Abu Said Al-Khudry r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda :'Sesungguhnya (hakekat) air adalah suci dan mensucikan, tak ada sesuatu pun yang bisa menajiskannya.'" (dikeluarkan oleh Imam Tiga dan dinilai shahih oleh Ahmad)

"Dari Abu Umamah Al-Bahiliy r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:' Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat menajiskan air kecuali oleh sesuatu yang dapat merubah bau,rasa, atau warnanya."( dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dianggap lemah oleh Ibnu Hatim)

"Dari Abdullah Ibnu Umar r.a. berkata : 'Bahwa Rasulullah SAW bersabda:" jika banyaknya air sudah mencapai dua kullah, maka ia tidak mengandung kotoran." Dalam lafadz lain disebutkan:"Tidak bernajis" (Dikeluarkan oleh Imam Empat dan dinilai shahih oleh Ibnu Khuzaimah, Hakim, dan Ibnu Hibbah)

dan masih ada hadis-hadis lain yang membahas tentang macam-macam air. Anda bisa menemukannya di Kitab-kitab yang tersedia di Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra. Kunjungan Anda kami nantikan :)