Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra

Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra
Logo Perpustakaan

Perpustakaan

Surganya para pecinta buku, tempat menambah wawasan, membuka jendela dunia, tempat berbagi pengalaman, dan tempat having fun.

Dengan blog ini, kami mencoba berbagi pengetahuan dan pengalaman-pengalaman menarik yang kami alami di perpustakaan.

So, read it and find it out!! :D

Sabtu, 22 Oktober 2011

Unta Nabi Shaleh

"Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, kamu akan ditimpa siksa yang pedih" (Al-A'raaf:73)


Aku semata-mata adalah kebaikan yang tidak mengenal kejahatan, lebih suci dari semua yang suci. Itulah aku.
  
aku tidak pernah menyakiti siapapun dan setelah aku dilahirkan. Tapi meskipun demikian, aku telah disembelih tanpa satu dosa pun yang kuperbuat. Meskipun Allah telah mengancam orang yang melakukan itu. Meskipun karena semula aku telah dibantai.


Membantaiku sama artinya dengan membantai kesucian di permukaan bumi, dan boleh jadi tragedi pembantaianku adalah awal munculnya undang-undang yang memaksa kebaikan untuk mempersembahkan darahnya pada drama pembantaian kehidupan. Ya....hidupku memang menakjubkan.


Aku dilahirkan di pangkuan sebuah gunung tinggi dengan satu kalimat dari Allah. Aku adalah bagian dari batu-batu gunung yang besar. Aku tidak mengenal diriku selain sebagai sebuah bongkahan batu. Kemudian batu yang keras itu berubah menjadi daging yang lembut, darah mengalir dalam urat, dan membentuk susu. Dadaku penuh dengan air susu. Setelah aku melahirkan, aku beri anakku minum dengan susu yang telah diberkahi Allah. Aku telah memberi minum beribu-ribu orang-orang kelaparan dan kehausan dari air susuku.

Sehari mereka kuberi minum dan di hari berikutnya aku memberi minum anakku yang masih kecil.

Aku tidak mengenal orang-orang yang telah kuberi minum dari air susuku. Aku tidak mengenal mereka dan nama-nama mereka. Aku memberi minum secara cuma-cuma tanpa bayar, selain mereka harus bersyukur kepada Allah ketika dahaga mereka hilang.

meskipun demikian, aku tetap saja dibunuh. Hari itu sebilah pisau mendarat dileherku. Aku sekarang sudah mati. Aku sudah mati beberapa detik yang lalu. Ketika sadar aku telah mati. Aku mencari tinta untuk menulis tapi aaku tidak menemukan selain seutas benang yang basah oleh darahku. Dengan itulah aku tulis kisah ini. Seandainya kisah ini tidak sempurna, itu bukan karena aku tidak mau menyempurnakannya


Aku mati dan sebuah senyuman  masih mengambang di wajahku. Apakah seekor unta dapat tersenyum? Ya, bila ia benar-benar seekor unta, bila ia adalah penjelmaan seekor hewan simbol sebuah ayat. Ketika Anda menjadi sesuatu dan di saat yang sama simbol bagi sesuatu yang lain, Anda tidak akan pernah mati atau anda akan mati tapi sebuah senyuman tetap mengambang di wajah anda. Orang mengira bahwa anda sedang tidur dan Anda akan bangun lagi. Alangkah besarnya malapetaka yang tibul dari perasaan manusia bahwa mereka akan mati dan tidak akan dibangkitkan untuk selama-lamanya.


Itulah malapetaka orang yang telah membunuhku. "Unta Shaleh", itulah namaku dalam sejarah manusia dan " Unta Allah" inilah namaku dalam kitab-Nya. "Wahai kaumku, unta Allah ini menjadi tanda bagimu..."


Allah telah menisbahkkanku pada-Nya sebagai sebuah kemuliaan bagiku. Aku adalah 'unta' dan bukan hanya unta biasa. Aku adalah penjelmaan untuk unta, sementara pada hakikatnya aku adalah satu ayat di antara ayat-ayat Allah, dan semua yang ada di alam ini adalah penjelmaan dari ayat. Dari mana aku harus memulai


baca kisah selanjutnya di Perpustakaan Ibnul Qoyyim Putra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar